• info@annahl-islamic.sch.id
    021 – 29218282

Adab berkomentar seorang Muslim di Sosial Media

Oleh : Nurul Latifah

Alat teknologi komunikasi dan informasi tengah marak digandrungi oleh berbagai generasi saat ini. Semakin berkembangnya teknologi dari waktu ke waktu tentunya memudahkan manusia untuk bersosialisasi, terlebih di dunia maya yang disebut dengan sosial media (Sosmed). Di era sosmed ini, semua orang memiliki panggung untuk bicara. Siapa saja dan kapan saja seseorang bisa berkomentar apa saja. 

Banyak orang ketika membaca sebuah berita, skandal atau kasus yang sedang hangat di sosmed atau media lainnya, atau mungkin yang lebih sederhana jika ada yang melihat seseorang jatuh ke dalam kesalahan, mereka “berkomentar” begitu cepat. Maraknya aksi berkomentar pedas dan nyinyir, semakin hari semakin merosotnya adab yang diterapkan oleh manusia dalam berkomentar. Kebebasan dalam beraspirasi telah ikut disalahgunakan. Maka jangan heran, jika batas antara komentar dan sindiran sungguh sangat sulit dibedakan dan akan sangat merugikan manusia.

 

Sebagai seorang muslim tentunya perlu menjaga adab agar lebih banyak diam dan tidak berkomentar terlalu banyak, namun hendaknya juga berkomentar postif. Seorang muslim membutuhkan ilmu untuk memberikan komentar, karena berkomentar tanpa ilmu dapat memperkeruh suasana dan menimbulkan fitnah.

Sebagaimana hadits berikut :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ    

 

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau hendaklah diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah).

Kunci kebaikan adalah menjaga lisan sebagaimana hadits berikut:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا 

“Dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘Rabbku adalah Allah’, lalu istiqamahlah”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?”. Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: “Ini”.[HR. Tirmidzi, Dishahihkan AL-Albani]

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berkomentar di sosial media, diantaranya:

  1. Hukum tulisan sama dengan hukum perkataan

Sebagaimana qaidah yang disampaikan ulama

الكتابة تنزل  منزلة القول

 

“Tulisan (hukumnya) sebagaimana tulisan”

Sehingga perlu tetap hati-hati berkata-kata melalui tulisan, karena akan dicatat oleh malaikat dan dipertanggung jawabkan

 2. Jangan mencela/memaki

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki MENCELA kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu LEBIH BAIK dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan GELARAN yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11).

3. Hindari menasehati di kolom komentar

Seorang ulama berkata:

 

ما رأيت على رجل خطأ، إلا سترته، وأحببت أن أزين أمره، وما استقبلت رجلا في وجهه بأمر يكرهه، ولكن أبين له خطأه فيما بيني وبينه، فإن قبل ذلك، وإلا تركته

 

“Tidaklah aku lihat kesalahan seseorang(saudara se-Islam), kecuali aku menutupinya,  aku senang untuk memperindah urusan dirinya”

“Tidaklah aku menjumpai seseorang dengan hal yang dia benci di hadapannya, kecualiaku jelaskan kesalahannya (secara sembunyi-sembunyi), hanya antara aku dan dia”

Jika dia menerima penjelasanku (maka itu lebih baik), dan jika dia tidak menerima ucapank

u, maka aku membiarkannya”

4.  Hindari berkomentar dengan non-mahram tanpa kepentingan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

 

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita.”

5. Hindari terlalu ngobrol banyak tanpa faedah

Terlalu banyak bicara adalah salah satu penyakit hati yaitu terlalu banyak bicara dan banyak makan.

Al-Fudhail bin Iyadh berkata,

 

خصلتان تقسيان القلب:كثرة الكلام وكثرة

 

“Ada dua perkara yang menjadikan hati menjadi keras: Terlalu banyak bicara dan terlalu banyak makan.”

Sejatinya komentar itu bertujuan untuk meluruskan yang salah, memberitahu yang keliru, dan mengapresiasi akan suatu prestasi. Maka dari itu, perlulah diingat bahwa isi komentar haruslah bersifat membangun. Dengan berkomentar penuh sopan dan santun, disertai argumen autentik, juga menggunakan bahasa lugas dan jelas. Dengan begitu, pihak yang kita beri komentar tidak akan merasa sakit hati dan bersedia menerima m

asukan dari kita dengan senang hati.

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Butuh Bantuan