• info@annahl-islamic.sch.id
    021 – 29218282

ADAB DAHULU, BARULAH ILMU

Oleh : Sarya, S.Pd.I


Adab menjadi salah satu unsur yang sangat penting dalam proses tholabul ‘ilmi. Sebagaimana Rosulullah diutus oleh Allah kemuka bumi ini hanya untuk menyempurnakan adab atau akhlak manusia. Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ 

Artinya:

“Sesungguhnya aku (Rasulullah ﷺ) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

(HR. Ahmad  2/381)

Jika seorang manusia yang agung saja memiliki misi yang besar untuk memperbaiki akhlak bangsa arab yang saat itu terkenal dengan kejahilannya, tentu ada dampak positif yang sangat besar jika manusia memiliki akhlak yang baik. Jika ada ungkapan yang cukup populer bahwa “Adab sebelum ilmu” itu menjadi benar adanya bahwa manusia memang pantas dan harus memiliki adab yang baik sebelum ia memiliki ilmu. Banyak sekali di Indonesia orang yang memiliki ilmu yang sangat luar biasa, namun mereka tidak memiliki adab yang baik, wal hasil dia memanfaatkan kepintarannya hanya untuk sekedar meraup kesenangan duniawi, korupsi, merasa paling benar, dan menganggap orang lain tidak lebih pintar darinya. Dia lupa bahwa sang pemilik ilmu hanya Allah, dan hanya sedikit ilmu yang Allah berikan kepada manusia di muka bumi ini, sebagaimana firman Allah :

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا ﴿الإسراء : ۸۵﴾

sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Nah orang yang beradab tentu dia paham betul akan hal itu, sehingga apabila orang yang memiliki adab yang baik, jika dia dianugerahi ilmu yang luar biasa oleh Allah, maka sudah tentu dia akan menganggap bahwa itu semua adalah anugerah dari Allah, dan ia akan menggunakan ilmu tersebut semata – mata hanya berharap ridho dari Allah. 

Betapa indahnya orang yang beradab. Jika seorang murid memiliki adab yang baik, maka ketaqwaan kepada Allah akan senantiasa hadir dalam hembusan nafasnya, memiliki rasa takut untuk melakukan maksiat dan hal – hal yang dilarang oleh Allah dan ia akan merasa diawasi oleh Allah. Siswa yang beradab sudah tentu ia akan hormat, taat dan khidmat kepada gurunya. 

Kita tahu, bahwa banyak sekali kisah – kisah para ulama yang mereka semasa hidupnya lahir dan tumbuh menjadi seorang ulama yang besar. Ulama yang lahir menjadi sosok yang menginspirasi banyak orang. Ulama yang memiliki wawasan keilmuan yang hingga saat ini masih sering dijadikan rujukan. Hal itu dikarenakan ketika mereka menuntut ilmu dengan para gurunya, mereka senantiasa meletakkan adab pada bagian yang paling utama dalam tholabul ‘ilmi. Bahkan Syaikh Ibnu Mubarak, seorang ulama yang sangat shalih, berkata, “Thalabtul adab tsalatsuna sanah wa thalabtul ‘ilm ‘isyrina sanah” (Aku belajar adab 30 tahun lamanya, sedang aku belajar ilmu hanya 20 tahun lamanya).

 Ada salah satu ulama besar yang namanya hingga kini masih kita kenal, beliau adalah Imam Malik bin Annas Rahimahullah. Suatu ketika beliau hendak menuntut ilmu kepada gurunya. Lantas sang ibu menyampaikan nasihat penting sesaat sebelum ia pergi untuk menimba ilmu, “Nak, camkan pesan ibu, pelajarilah olehmu adab gurumu sebelum kau pelajari ilmunya.”

 Sebuah pesan singkat, namun sangat mendalam maknanya. Sejatinya, ada pesan lain yang tersirat dari pesan Bundanya Malik bin Anas, yaitu “Nak, jika kau tak temui adab pada diri gurmu, maka kau tak perlu buang-buang waktu belajar ilmu kepadanya.” 

Perkataan sang ibu memiliki makna yang mendalam, betapa pentingnya seorang guru memiliki adab yang baik dalam memberikan pengajaran kepada muridnya. Sungguh tiada keberkahan dalam diri manusia yang memiliki ilmu yang tinggi, namun tidak dibarengi dengan adab yang baik. 

Allah pun memberi perumpamaan ummat bani Isroil yang berilmu, namun ia tidak memiliki adab dalam dirinya bagaikan keledai yang memikul kitab – kitab di punggungnya. Firman Allah : 

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya : 

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

Allah tengah menyindir keras para ahli ilmu yang memiliki kualitas keilmuan yang luar biasa, yang memiliki hafalan berjilid-jilid kitab dalam kepalanya, namun tiada adab tertanam dalam diri dan lisannya, maka akan sia-sia ilmunya. Bahkan, malah menyeretnya pada kehinaan. Pantas jika para ulama sepakat, “Kada al-adab qabla al-‘ilm” (Posisi adab itu sebelum ilmu).

Di Sesi akhir pada tulisan ini, saya berpesan kepada seluruh guru khususnya dan umumnya siapapun yang membaca tulisan ini, mari kita sama sama tanamkan dan tancapkan adab dalam diri kita, agar kita mampu menjadi teladan yang baik, sehingga ilmu yang kita ajarkan menjadi berkah dan mendapatkan keridhoan disisi Allah. 

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Butuh Bantuan