• info@annahl-islamic.sch.id
    021 – 29218282

Adab Mendatangkan Keberkahan Ilmu

oleh Japar Shiddiq M,Pd.

Dalam suatu kesempatan bersama para sahabatnya, Rasulullah shalllahu alaihi wa sallam  bersabda: “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan Akhlaq.” Dengan kalimat lain bahwa sesungguhnya tugas risalah Rasulullah ke dunia ini adalah memperbaiki akhlaq atau adab manusia, khususnya saat itu di jazirah Arab yang sangat jahiliyyah dan umumnya kepada seluruh manusia di dunia untuk menjadi makhluk Allah yang beradab.  Oleh karenanya Rasulullah selama hampir 23 tahun sejak diberi amanah kerasulannya berjuang dengan memberi teladan terbaik kepada para sahabatnya sekaligus kepada umat manusia seluruhnya.

Hasil pendidikan Rasulullah selama 23 tahun memberikan dampak besar bagi jazirah Arab yang sebelumnya dikenal sangat terbelakang dan jauh dari Adab apalagi menjadi sebuah Peradaban, menjadi sebuah wilayah yang mampu menjadi sumber Peradaban dunia diantara hegemoni Peradaban Persia juga Romawi yang jauh lebih lama dan mapan. Dasar dari Revolusi Besar di Jazirah Arabia tak lain adalah Adab Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia dan tak tertandingi, hal ini karena Rasulullah langsung dididik juga dibimbing oleh Allah SWT.

Salah satu contoh ketinggian adab yang dicontohkan Rasulullah adalah kisah tentang sahabat Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas. Suatu hari Ubay bin Ka’ab sedang menunggu kendaraan, maka Ibnu Abbas (saudara sepupu nabi) segera mengambil hewan kendaraannya agar Ubay bin Ka’ab menaikinya kemudian Ibnu Abbas berjalan bersamanya. Maka berkatalah Ubay bin Ka’ab kepadanya, “Apa ini, Wahai Ibnu Abbas?”, Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk menghormati ulama kami.” Ubay menaiki kendaraan, sedangkan Ibnu Abbas berjalan dibelakang hewan kendaraannya. Ketika turun, Ubay bin Ka’ab mencium tangan Ibnu Abbas. Lalu Ibnu Abbas bertanya, “Apa ini?” Ubay bin Ka’ab menjawab, “Begitulah kami diperintahkan untuk menghormati keluarga Nabi kami.” Begitu tingginya Adab yang ditunjukkan oleh para sahabat. Hal ini juga menunjukkan pentingnya Adab itu bagi kita semua untuk menjadi manusia yang sesuai fitrah penciptaannya, manusia yang Adil dan Beradab.

Setelah generasi Rasulullah dan para sahabat, generasi Tabiin dan Tabiit Tabiin juga ulama salaf terus menjaga penekanan pentingnya mempelajari adab ini sebelum ilmu. Ulama besar di Madinah yaitu Imam Malik yang menjadi guru dari Imam Syafi’i juga rekan diskusi yang diandalkan oleh Imam Abu Hanifah, ketika akan belajar ilmu agama pertama kali kepada guru beliau yang bernama Imam Rabi’ah Ibnu Abi Abdirrahman diingatkan ibundanya tuk meneladani akhlaq beliau sebelum mengambil ilmunya. Ibunda Imam Malik berkata, “Pelajarilah Adab darinya (Imam Rabi’ah), sebelum mengambil ilmunya.

Ketahuilah bahwa ulama salaf sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata, : “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Ibnul Mubarok berkata, “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” Ibnu Sirin berkata, “Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini. Imam Abu Hanifah berkata, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)

Kita perlu merenung sejenak tuk melihat perilaku generasi soleh setelah zaman Rasulullah dan para sahabat hidup, mereka semua sangat mementingkan adab di atas kepentingan lainnya. Di zaman keemasannya adab menuntut ilmu sangat diperhatikan oleh para ulama. Karena para ulama sangat meyakini bahwa Adab akan mendatangkan ilmu yang berkah, sementara keberkahan akan bersama dengan manfaat.

 

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Butuh Bantuan