• info@annahl-islamic.sch.id
    021 – 29218282

Fieldtrip Virtual Paralel Kelas 5 Museum Gedung Sate Bandung

Oleh: Moh. Nur Abiyat, S.E (PIC Edu-Virtual Trip Paralel 5)

Alhamdulillah, atas berkat rahmat dan karunia Allah subhanahuwata’alla, siswa kelas 5 mendapat kesempatan melakukan virtual fieldtrip ke Museum Gedung Sate, Bandung. Kegiatan ini disambut antusias oleh seluruh siswa. Siswa telah menyiapkan diri dengan hadir tepat waktu di link zoom yang telah diberikan oleh pihak Museum Gedung Sate 30 menit sebelum waktu dibukanya link. Siswa hadir dengan mengenakan seragam olah raga sekolah dan telah mengatur nama identitas diri pada layarnya sesuai aturan yang telah diberikan oleh walas.

Akhirnya link zoom dibuka pukul 10.04. Hal ini lewat 10 menit dari kesepakatan yang telah dijanjikan oleh pihak Museum Gedung Sate sendiri pada PIC acara. Pemateri , Kak Dery, ditemani operator link zoom langsung memulai perkenalan singkat. Kegiatan diawali dengan mengajak siswa melihat sejarah kota Bandung melalui power point, lalu menunjukkan foto-foto yang ada di Gedung Sate tentang kota Bandung di zaman pemerintahan Belanda, bangunan Gedung Sate sebagai rumah gubernur yang memerintah masa itu, serta beberapa gedung yang berdiri di sekitar Gedung Sate, seperti Gedung sekolah pertama di Bandung, serta hotel pertama di Bandung, yaitu Hotel Hotman.

Diceritakan bahwa Bandung menjadi pusat perhatian pemerintahan Belanda di tahun 1884, semenjak dibangunnya jalur kereta api di Bandung. Gedung Sate dijadikan pusat pemerintahan karena adanya wacana memindahkan ibukota dari Batavia ke Bandung di masa itu.

Setelah menceritakan sejarah kota Bandung, pemateri menjelaskan fisik bangunan Gedung Sate. Diawali dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa, kenapa Gedung Sate dinamakan Gedung Sate. Ada siswa yang mampu menjawab alasan kenapa gedung ini memakai nama sate. Pemateri membenarkan dan melengkapi, bahwa bagian atas atapnya yang menyerupai tusuk sate dengan adanya enam bulatan ornamennya yang menyerupai sate, merupakan ornament penangkal petir dari gedung tersebut. Dijelaskan juga enam bulatan ornament tersebut menggambarkan kejayaan membangun Gedung Sate memakan biaya 6 juta golden, atau setara 45 milyar rupiah.

Gedung Sate dibangun untuk digunakan oleh Departemen Kerja Umum dan Perairan. Gadung ini berfungsi sebagai gedung PU. Dijelaskan oleh pemateri, bahan-bahan yang digunakan untuk membangun Gedung Sate. Bagian tembok, atap, seluruhnya dirangkai untuk anti gempa. Gedung ini juga dilengkapi dengan sirine, yang dibunyikan hanya dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia, dan tanggal 3 Desember, hari PU.

Ditetapkannya 3 Desember sebagai hari PU, karena di tanggal tersebut, tepatnya 3 Desember 1945, terjadi peristiwa mempertahankan Gedung Sate oleh para pemuda melawan pasukan sekutu yang ingin merebut Gedung Sate ini. Gedung Sate ini berhasil dipertahankan, namun memakan korban 7 pemuda, yang akhirnya dibangun sebuah tugu di area Gedung Sate tersebut untuk mengenang jasa mereka.

Siswa sangat antusias menyimak penjelasan pemateri. Siswa pun tertawa geli ketika mengetahui bahwa mereka disambut oleh Gubernur Jawa Barat saat ini, yaitu Bapak Ridwan Kamil, yang ternyata hanya berupa gambar 3 dimensi. Ketika sempat link nge-leg, siswa aktif mengomunikasikan kepada pemateri dengan adab yang baik. Namun sayang, ketika diakhir kegiatan, pemateri hanya menyampaikan bahwa informasi yang disampaikan sudah selesai, kemudian diingatkan oleh guru untuk berfoto bersama. Lalu operator menunjukkan jalanan lorong di museum ke arah keluar, seolah-olah akan mengantar para siswa keluar Gedung Sate. Namun  di tengah tayangan, link langsung diputus oleh pihak operator. Semoga dengan sejarah tentang Gedung Sate para siswa bisa mengambil pelajaran maupun ibroh yang didapatkan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Powered by