• info@annahl-islamic.sch.id
    021 – 29218282

Korelasi Pentingnya Adab Menurut Pandangan Islam dan Barat

oleh Umniati Nibras Imani

Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Kemudian, kalimat serupa juga pernah disampaikan oleh Yusuf bin Al Husain, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami Ilmu.” Dua kalimat ulama tersebut menunjukkan seberapa penting mempelajari adab dalam menuntut ilmu.

Dalam konteks lain, yaitu di wahyu pertama yang pertama kali turun; Al-Alaq ayat 1-5. Ayat tersebut menyebutkan lafazh iqro’ yang artinya membaca, dan juga qalam yang diterjemahkan sebagai pena. Beberapa ahli tafsir menerjemahkannya sebagai kegiatan baca tulis yang terdapat di aktivitas menuntut ilmu.

Dari pernyataan-pernyataan di atas, dapat kita ketahui seberapa penting adab dan ilmu dalam Islam. Sementara pertanyaannya adalah, kenapa harus adab sebelum ilmu?

Jika kita melihat dari sudut pandang barat, terdapat sebuah teori ilmu yang disebut dengan segitiga kebutuhan dasar manusia oleh Maslow (Maslow’s Hierarchy of Needs). Dalam segitiga itu disebutkan, bahwa selain kebutuhan fisiologis dan rasa aman, manusia juga membutuhkan kebutuhan sosial dan juga penghargaan yang kemudian dipuncaki dengan aktualisasi diri. 

Adapun penjabaran dari kebutuhan sosial adalah adanya afeksi atau hubungan kasih sayang. Sedangkan penghargaan adalah kebutuhan manusia untuk mencapai sesuatu dalam hidupnya, seperti prestasi, reputasi, dan lain sebagainya. Jika diperhatikan dengan seksama, dua hal tersebut memiliki suatu keterkaitan yang jelas, yaitu adanya kebutuhan untuk dihargai melalui afeksi atau ungkapan kasih dari orang-orang di lingkungan sosial seseorang.

Hal tersebut menguatkan perkataan ulama yang menyebutkan pentingnya menerapkan adab ketika menuntut ilmu.

Kenapa?

Karena dalam kegiatan menuntut ilmu, kita bertemu bukan hanya dengan pengajar atau pendidik. Tapi juga dengan teman sejawat, bahkan dengan lingkungan sekalipun. 

Menerapkan adab berarti kita sedang berbuat baik pada orang lain. Kebaikan yang kita lakukan pada dasarnya akan kembali lagi pada diri kita sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang menyayangi meskipun terhadap hewan sembelihan, niscaya Allah akan merahmatinya pada hari kiamat.” Hal tersebut menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan di dunia akan memberikan manfaat pada kita di hari kiamat, bahkan terhadap hewan sembelihan sekalipun.

Ketika kita memperlakukan guru dengan baik (dengan menghormatinya), maka guru akan merasa senang karena kebutuhan dasarnya dipenuhi; yaitu dengan tercapainya rasa penghargaan. Hal ini bukan berarti guru menginginkan rasa hormat yang berlebih. Sama sekali bukan. Sebagaimana diri yang ingin diperlakukan dengan baik oleh sesama manusia, maka ini juga berlaku pada pendidik atau guru. Ketika orang yang dididik atau muridnya menunjukkan rasa hormat, maka muncullah perasaan senang yang membuat guru tidak segan untuk mentransfer seluruh ilmunya pada sang murid dengan ikhlas.

Bagian terpenting dari hal diatas adalah pada bagian yang ditebalkan, yaitu ikhlas. Penting sekali mendapat ilmu yang berkah dari guru, karena nantinya ilmu tersebut akan digunakan seumur hidup dan menjadi bagian dari diri kita. Kita tentu tak mau memiliki bagian diri yang terdiri atas sesuatu yang tidak berkah, bukan?

Kemudian kepada teman sejawat. Memperlakukan teman sejawat dengan baik artinya sama dengan meminta keridhoan mereka untuk membantu ketika diri sedang merasa sulit, baik dalam urusan menuntut ilmu ataupun urusan hidup lainnya. Karena sekali lagi, dibuktikan dengan adanya teori Hirarki Maslow, ketika kebutuhan penghargaan seseorang terpenuhi, maka akan muncul aktualisasi diri yang salah satu wujudnya bisa dengan memperlakukan orang dengan baik, atau ekspresi-ekspresi diri yang lain. Akan tetapi, tentu saja tujuan utamanya adalah untuk mencapai keridhoan dengan mengikuti perintah Allah subhaanahu wa ta’ala untuk berbuat baik.

Kita juga harus berbuat baik pada objek lain selain rupa manusia, seperti hewan dan lingkungan. Karena pada dasarnya segala sesuatu adalah milik Allah, hamba Allah, maka tugas kita adalah menjaga dan memperlakukan seluruhnya dengan baik sesuai aturan dan anjuran yang telah diajarkan dalam Islam. Selain itu, dengan menjaga lingkungan beserta seisinya, artinya kita tengah menjaga ‘kelas belajar’ kita. Karena sejatinya, ilmu yang kita pelajari juga berasal dari alam.

Akhir kata, setelah memahami bagaimana dua teori yang memiliki landasan yang berbeda (teori Islam dari Al Qur’an dan Hadist, sementara teori Barat berasal dari ilmuwan barat dan penelitian ilmiah lainnya), tapi keduanya mencapai satu kesimpulan yang sama; yaitu pentingnya berlaku baik, yaitu saling menghargai yang dinyatakan sebagai ADAB dalam istilah Islam, kepada siapapun. Baik pada guru, teman, bahkan lingkungan non hayati sekalipun. Ini barulah pembahasan di lingkungan sekolah, tentunya akan ada objek lain yang menjadi sasaran penerapan adab pada lingkungan yang berbeda, seperti di rumah, di jalan, di tempat ibadah, dan sebagainya. Baarakallah fiikum.

 

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Butuh Bantuan