• info@annahl-islamic.sch.id
    021 – 29218282

MAKNA MAULID NABI SAW

milad un nabi decorative lamps festival backgroundR

Oleh: R. Noorbarani O. F, M.Pd (Kepala Sekolah TK An Nahl Islamic School)

Lahirnya seorang manusia ke dunia adalah hal yang biasa terjadi.  Setiap hari, setiap jam bahkan setiap menit dunia ini senantiasa menyambut kelahiran bayi-bayi manusia yang baru. Karena hal ini biasa terjadi, maka tidak aneh bila sekarang  bumi kita ini sudah dihuni lebih dari 7 milyar jiwa, masyaallah. Karenanya, barangkali, nabi kita Rosululloh SAW tidak pernah menjadikan hari lahirnya sebagai hari istimewa atau hari yang setiap tahunnya harus diperingati, padahal beliau adalah orang yang paling dicintai keluarga dan sahabatnya. Tapi sekalipun, keluarga dan para sahabatnya tidak pernah merayakan hari kelahiran beliau, kenapa? Karena makna lahirnya seorang manusia ke dunia lebih dari sekedar hanya mengingat tanggal lahirnya saja.

Kenyataannya sekarang sebagian kaum muslim dalam menyambut moment kelahiran atau yang lebih dikenal dengan maulid nabi tersebut yang katanya perwujudan dari cintanya kepada rosul, sangat antusias memperingatinya, banyak dari mereka terutama yang berada di daerah atau pelosok nusantara, mengadakan kegiatan bahkan menjadikannya tradisi seperti barzanji (menceritakan riwayat hidup Nabi) disertai pembuatan tumpeng yang disekelilingnya dihiasi beragam buah, uang dan makanan instan. Pada saat pembacaan barzanji, tumpeng-tumpeng tersebut berada ditengah-tengah kerumunan orang untuk didoakan yang kemudian dimakan Bersama-sama. Ada juga tradisi bunga lado (pohon uang yang disusun) yang nantinya akan disumbangkan untuk pembangunan rumah ibadah, selain itu ada juga upacara ngalunsur (proses pencucian benda-benda pusaka dengan air bunga dan digosok dengan minyak wangi), dan masih banyak lagi tradisi lainnya. Terlepas dari pro dan kontra dari penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tersebut, sesungguhnya niat awal mereka adalah bagaimana dapat mengungkapkan perasaan cintanya kepada Rasululloh SAW, walaupun mungkin belum dengan cara yang tepat sesuai syariat. Tapi benarkah bukti cinta kita kepada Rasul cukup hanya sekedar itu saja?

kita sebagai umat muslim memang harus punya rasa cinta kepada Rosululloh SAW karena kata hadist: “tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manuasia” (H.R Al-Bukhari). Rasa cinta terhadap beliau sungguh sangat dangkal bila hanya diungkapkan dalam acara-acara ritual/tradisi seperti peringatan mengenang kelahirannya saja. Kecintaan semacam ini tidak bermakna apa-apa jika dalam aspek kehidupan nyata, ajaran yang dibawa oleh beliau justru banyak ditinggalkan. Bagaiman mungkin seseorang dikatakan mencintai Rosul, sementara teladan kehidupan nyata yang diambil bukan dari beliau? Cara mencintai dan mengagungkan Rosululloh SAW adalah dengan meneladani beliau secara total tidak parsial atau setengah-setengah, karena kata Alloh “apa saja yang dibawa oleh rosul untuk kalian, ambillah, dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah” (Q.S Al-hasyr[59]:7)

Selanjutnya bagaimana kita bisa tahu hal-hal apa saja yang diperintahkan dan dilarang Alloh serta apa saja yang dicontohkan Rosululloh bila kita tidak pernah belajar atau mengkaji Islam? IQRA…surat pertama yang Allah turunkan kepada Rasululloh mengindikasikan bahwa dengan “iqra” lah kita bisa melaksanakan syariat Allah dengan meneladani Rasululloh. Inilah bukti tertinggi perwujudan cinta kita kepada Rasululloh dan bukti syukur kita kepada Allah atas keberkahan kelahiran Beliau ke dunia. Momentum bulan kelahiran Rasululloh sesungguhnya bisa kita jadikan tolak ukur dan evaluasi diri seberapa pantaskah kita menjadi bagian dari umat Rasululloh SAW yang impiannya berkumpul dengan beliau di surga Allah. Semoga solawat dan salam senantiasa tercurah padanya.

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Powered by