• info@annahl-islamic.sch.id
    021 – 29218282

Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh: Moh. Abdul Jani, S.Pd (Walas 5.C)

Nama saya Jani, lebih akrab di panggil Mr. Jani , seperti halnya guru-guru di seluruh Indonesia, harus beradaptasi dengan kehadiran pandemi virus corona yang mengakibatkan sekolah-sekolah ditutup dan pembelajaran dialihkan menjadi jarak jauh (KBMJJ). Saya kini harus belajar hal-hal baru, seperti cara menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet, dan Google Classroom.

Pengalaman menarik di masa pandemi ini saya dapatkan saat menjalani rapat kerja di awal tahun ajaran baru 2020/2021 dan pelatihan yang diselenggarakan secara rutin. Menyiasati kondisi siswa-siswa yang ternyata tidak memadai untuk melaksanakan MPLS secara langsung, maka MPLS dilaksanakan secara daring. Lebih memahami kondisi siswa yang terdampak pandemi, membuat saya jadi lebih memutar otak untuk bisa kreatif lagi. Setelah melihat langsung kondisi para siswa, saya yang awalnya idealis dan menuntut siswa-siswanya untuk bisa mengikuti pembelajaran daring secara sempurna, kini mulai bisa memahami keadaan mereka. Karena semua terkendala dengan sinyal internet dan jarak yang jauh.

“Jujur, saya terharu hampir mau menangis melihat keadaan siswa seperti ini, harus dipaksa bisa ini bisa itu. Sekarang, apa yang saya bisa ajarkan, saya ajarkan semaksimal mungkin. Masalah nilai, itu hanya sebatas nilai, yang penting saya bisa membekali mereka dengan kecakapan untuk bertahan hidup, itu saja.” Menurut saya ada sesuatu yang hilang, ketika sistem pembelajaran dilakukan secara daring, saat guru dan muridnya tidak bisa lagi bertatap muka dan berinteraksi di satu ruang yang sama. Bagi saya, sesuatu yang hilang itu adalah ikatan emosional antara saya dan siswa-siswa yang tidak akan mungkin tergantikan oleh komunikasi secara virtual. “Seorang guru itu harus ada. Guru itu tidak bisa digantikan oleh platform-platform pendidikan seperti Ruangguru, Rumah Belajar, atau apa pun itu”. Dan menurut saya, karena siswa tidak lagi hadir di kelas, itu membuat para guru kesulitan memantau perkembangan anak didik.

Begitupun seperti penjelasan Kepala Sekolah juga menyebut bahwa pembelajaran daring sebenarnya tidak ideal, terutama bagi siswa yang masih duduk di bangku SD. Orangtua juga kesulitan, karena mereka bekerja. Akhirnya anak main sendiri,”. Sementara itu, meski saya sudah mempelajari penggunaan aplikasi seperti Zoom, Google Meet, atau Google Classroom, untuk saat ini pembelajaran melalui aplikasi-aplikasi tersebut menurut saya tidak akan mungkin bisa dilaksanakan secara sempurna.

Rindu akan kebersamaan dengan murid yang kini saya rasakan, Meski terkadang dianggap galak dan menyebalkan. Namun, semua itu bisa sedikit hilang karena saya sering bercanda dan bermain bersama siswa-siswa saat pembelajaran daring. Walau tidak seperti saat bertatap muka langsung dengan mereka. Hal inilah yang mulai saya rindukan. Kerinduan itu tidak hanya saya rasakan seorang. Tapi siswa-siswa juga mengalami perasaan yang sama. Mereka sering bertanya, kapan mereka bisa kembali ke sekolah, sebab mereka sudah rindu untuk bisa belajar dan berjumpa lagi dengan kawan dan guru-gurunya. Selain itu, mereka juga mengungkapkan bahwa mereka tidak keberatan bila harus memakai masker selama jam pelajaran, asal bisa kembali ke sekolah. “Itu sudah merupakan nilai positif bagi saya, bagi kami sebagai guru. Anak-anak itu rindu dengan sekolahnya itu hebat sekali. Kalau anak-anak bisa rindu itu maka pembelajaran kami berhasil, tapi kalau anak-anak tidak rindu maka pembelajaran kami tidak berhasil. Dan bagi saya, sebuah institusi pendidikan tidak lengkap tanpa kehadiran seorang guru. Demikian pula dengan sekolah yang tidak utuh bila tidak ada gedung, guru, dan murid di dalamnya.

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Powered by