• info@annahl-islamic.sch.id
    021 – 29218282

Setiap Ketentuan Allah ﷻ Adalah Kebahagiaan

Oleh: Muhammad Rian Sopian, S.Pd.I

Allah ﷻ menciptakan nabi Adam alaihis salam sebagai manusia pertama yang kisahnya sudah masyhur di kalangan kaum muslimin, dari beliaulah dimulai sebuah kehidupan dunia yang sampai saat ini dapat dirasakan setiap manusia yang hidup. Hakikatnya kehidupan dunia ini adalah sementara dan tujuan utama kehidupan manusia adalah akhirat.

Kehidupan dunia adalah sebuah perjalanan, ketika manusia mengetahui dirinya akan melaksanakan perjalanan pasti akan banyak persiapan yang dipersiapkan. Mulai dari pakaian, persediaan makanan, perlengkapan kesehatan dan lain sebagainya. Dan kehidupan akhirat adalah tujuan yang dinanti setelah perjalanan dunia.

Dalam menapak perjalanan dunia manusia akan dipertemukan oleh sebuah keadaan, situasi dan kondisi. Namun hakikatnya pertemuan ini tak akan abadi, pasti akan ada perpisahan yang terjadi.

Rasulullah ﷺ sebagai utusan Allah ﷻ memberikan kabar gembira kepada manusia agar suatu hari nanti mendapatkan naungan Allah ﷻ di akhirat nanti, sebagaimana sabda nabi Muhammad ﷺ

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh ﷻ dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ

  • Imam yang adil,

وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ

  • Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh ﷻ,

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ

  • Seorang yang hatinya bergantung ke masjid,

وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

  • Dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh ﷻ, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

  • Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Aku benar-benar takut kepada Allâh ﷻ.’

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

  • Seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

  • Seseorang yang berdzikir kepada Allâh ﷻ dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

Dalam merenungi sebuah pertemuan dunia ini, manusia pasti akan mengalami sebuah kasih sayang, bukan sekedar kepada pasangan hidup namun kepada sahabat, teman dan rekan kerja juga pasti akan mewarnai kehidupan tersebut. Semua manusia berharap kasih sayang, kedekatan, interaksi, pergaulan dan perkumpulan ini menunjukkan kepada 1 golongan yang akan mendapat naungan Allah ﷻ yaitu orang yang saling mencintai di jalan Allah ﷻ, keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya.

Kisah kebersamaan Nabi Musa dan nabi Khidir alaihimas salam sangatlah patut diketahui dan dijadikan sebuah perjalanan kebersamaan. Allah ﷻ mengabadikan kisah tersebut pada QS. Al Kahfi : 65-82.

Nabi Musa alaihis salam dan Yusya ibnu Nun (muridnya) yang sedang dalam perjalanan mencari pertemuan dua buah lautan. Dalam perjalanan Allah ﷻ pertemukan mereka dengan seorang hamba Allah ﷻ yang telah diberikan rahmat dan ilmu haqiqat yaitu Nabi Khidir.

Nabi Musa memohon kepada Nabi Khidir agar mampu mengajarinya ilmu, namun Nabi Khidir hanya mengucapkan akan ketidaksabaran Nabi Musa dalam mengikutinya. Nabi Musa kaget mendengarnya karena pertemuan itu baru terjadi dan Nabi Khidir seperti orang yang sudah mengetahui ketidaksabaran Nabi Musa dalam mengikutinya.

Akhirnya Nabi Musa berjanji akan sabar dalam segala keadaan dan tidak akan menentang dalam segala urusan. Nabi Khidir pun menyutujui perjanjian itu dan mengatakan bahwa Nabi Musa tidak boleh bertanya sampai Nabi Khidir menjelaskannya.

Ada tiga peristiwa yang terjadi dalam kebersamaan mereka

  • Menaiki perahu dan melubanginya,
  • Membunuh seorang anak laki-laki,
  • Memperbaiki rumah yang hampir roboh.

Peristiwa-peristiwa diatas membuat Nabi Musa kesulitan dalam mengerti kejadian tersebut, namun Nabi Khidir hanya mengatakan bahwa Nabi Musa tidak akan sanggup dengan ketidaksabarannya.

Peristiwa pertama yang Nabi Khidir lakukan adalah karena ia mengetahui pemilik perahu tersebut adalah seorang yang miskin yang bekerja di laut, sesungguhnya Nabi Khidir melubangi perahu tersebut tiada lain hanyalah untuk membuatnya cacat, karena mereka akan melalui penjagaan raja yang zalim dengan perahu tersebut.

Peristiwa kedua yang Nabi Khidir lakukan adalah karena ia mengetahui bahwa anak laki-laki yang dibunuh telah ditetapkan sejak penciptaannya sebagai orang kafir dan durhaka dan kedua orang tuanya adalah orang shaleh, maka ia membunuhnya dengan harapan Allah ﷻ mengganti anak tersebut dengan anaklain yang lebih baik.

Peristiwa ketiga yang Nabi Khidir lakukan adalah karena ia mengetahui bahwa rumah yang diperbaiki itu adalah rumah dua anak yatim yang ditinggalkan oleh ayah yang shaleh. Ayahnya pun pernah menyimpan harta benda yang ada di bawah tembok tersebut. dan berharap harta tersebut dapat mencukupi anaknya sampai dewasa.

Nabi Musa dan Nabi Khidir memiliki sifat ma’sum yakni terjaga dari dosa dan kesalahan besar. Pelajaran Yang Nabi Khidir berikan adalah ilmu haqiqat yang tidak boleh ditiru oleh setiap manusia kecuali atas izin-Nya karena hal tersebut bertentangan dengan syariat.

Nabi Musa dan Nabi Khidir bersepakat untukmenjalin kebersamaan karena didorong niat beribadah kepada Allah. Nabi Musa pun ingin berguru mencari ilmu haqiqat kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir bersedia memberikan ilmunya dengan syarat-syarat yang disepakati bersama. Namun atas kehendak Allah ﷻ Nabi Musa pun melanggar syarat tersebut dan menghormati apa yang telah disepakati bersama dan mereka berpisah sesuai kesepakatan.

Perpisahan tersebut berlangsung dengan indah, seindah saat awal bertemunya yang tak menyimpan dendam dan tidak saling membenci. Nabi Musa menghormati ilmu haqiqat yang dimiliki nabi Khidir. Demikian pula Nabi Khidir menghormati ilmu syariat yang dipegang Nabi Musa. Kedua ilmu itu benar karena bersumber dari Allah ﷻ. Kedua Nabi itu bertemu karena Allah dan berpisahpun karena Allah. Mereka hanya berpisah secara lahiriyah saja namun batin dan hati mereka saling menyatu dan mendoakan.

An Nahl Islamic School adalah sebuah lembaga islam yang mempunyai guru dan karyawan yang terhitung banyak, lembaga ini mempertemukan semuanya dalam keadaan adat yang berbeda, kulit yang berbeda, postur tubuh yang berbeda dan segala hal yang berbeda, namun mempunyai agama yang sama dalam bimbingan Rasulullah ﷺ untuk meraih ridha Allah ﷻ. Pertemuan ini silih berganti setiap pergantian tahun, itu semua atas kehendak Allah ﷻ. Kami sebagai salah satu bagian dari An Nahl pun merasakan banyak sekali pertemuan. Pada setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Saat pertemuan sudah terjalani, maka disaat itulah banyak sekali ilmu, nasihat dan kebersamaan.

Saat ini kami berada diperalihan tahun ajaran, pertemuan dan perpisahan terjadi lagi, biasanya kami yang mengalami pertemuan dengan rekan baru. Allah ﷻ mempertemukan kita semua, banyak sekali ilmu yang lembaga An Nahl Islamic School berikan, ilmu yang teman-teman kompeten curahkan kepada kami yang membutuhkan dan ilmu dari semua warga An Nahl Islamic School yang tak tersadari mata namun tertanam dalam hati, Jazakumullah Ahsanal Jaza.

Nasihat demi nasihat kami temui selama interaksi masih terjaga, waktu demi waktu selalu memberikan kenangan baru. Tak terasa akhirnya Allah ﷻ menjadikan nasihat ini sebagai kenangan dan bekal kita meniti kehidupan dunia. Nasihat paling berharga adalah saat Allah ﷻ menunjukkan kekuasaan-Nya kepada kami dengan dipanggilnya rekan kami Mr. Iwan Irawan (SD), Mr. Aldo (SMP) dan pak Yamin (Offfice Boy). Terimaksih atas nasihat berharga dalam hakikat kehidupan ini yang kalian berikan kepada kami yang masih hidup, tak ada yang mampu kami berikan setelah kalian berikan nasihat ini selain doa terbaik selalu ada untuk kalian. Semoga Allah selalu cucurkan rahmat, kasih sayang dan ampunan kepada kalian dan kelak harapan kami semoga kita mampu berjumpa kembali di surga-Nya.

Silih bergantinya hari pasti banyak sekali khilaf dan kesalahan dalam kebersamaan. Bersama bukan berarti akan hidup selamanya, namun kebersamaan ini akan menentukan kehidupan abadi kita. Harapan kami dalam menghadapi kehidupan abadi adalah Allah ﷻ cabut ajal kami dengan husnul khatimah. Perpisahan pasti terjadi, maka saat inipun kami mengalami itu dalam menjalani kebersamaan ini. Saat perpisahan ini terjadi, harapan terbesar adalah kita bisa saling memaafkan.

Matahari mengajarkan kita bahwa pertemuan yang hangat di pagi hari terdapat sebuah perpisahan yang indah di malam hari dengan datangnya rembulan. Perpisahan bukan berarti berhenti menyatukan hati namun kita akan terus jalin silaturahmi. Perpisahan adalah ucapan menyambut hari-hari rindu, semoga kerinduan ini akan mempertemukan kita kembali di surga. Perpisahan itu ada agar kita bisa menghargai sebuah pertemuan. Semoga pertemuan dan perpisahan ini adalah karena takdir indah dari Allah yang membahagiakan dan Insyallah dengan izin-Nya, Allah akan pertemukan kita kembali di surga.

Semoga Allah ﷻ berikan kemudahan, kesuksesan dan keberkahan untuk teman-teman yang tahun inipun berpisah dengan An Nahl Islamic School. Doa terbaik untuk kalian disana sahabatku.

Wallahu a’lam bish shawaab

Semoga bermanfaat.

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Butuh Bantuan