• info@annahl-islamic.sch.id
    021 – 29218282

Terasa Tanpa Terpaksa

By : Wiwik Widyastuti, S.Pd.

Flashback sejenak lima tahun lalu.

Menelusuri latar parkiran sekolah, mendapati seorang murid turun dari kendaraannya. Dia pun berlari ketika melihat sang guru sedang berjalan ke arah yang sama. 

“Assalamu’alaikum Ms,” sapanya ramah

“Wa’alaikumussalam, Kak.” Jawab diri saat dia mencium tangan dengan takzim. “Kakak diantar siapa?” tanyaku.

“Sama Bubun, Miss.”

 Lalu kami berjalan beriringan masuk ke dalam gedung. Mata ini tak berhenti memandang murid tersebut yang tak henti memberikan salam dan mencium tangan guru yang ditemuinya. Maa syaa Allah, dia tidak merasa canggung atau sungkan melakukannya. Meski yakin murid ini ada yang belum kenal dengan para guru yang ditemuinya karena ia sendiri masih kelas 2 SD.

 

Kebetulan juga dia adalah murid kelasku. Terbesit rasa bangga apa yang dia lakukan. Tapi timbul rasa penasaran, apa yang mendasari ia melakukan hal tersebut. Karena tidak kebanyakan anak mau melakukan hal yang mungkin remeh bagi anak lainnya, tapi buatnya tidak. 

Hari demi hari, melakukan pengamatan kepada murid ini. Bahkan saat mobil yang menjemputnya sudah datang dan ia melihat seorang guru lewat, ia pun berlari menghampiri. Setelah mengucapkan salam, ia mencium tangan guru tersebut. Gaya khas kekanakannya, membuat para guru mengelus kepalanya yang ditutupi jilbab.

Hingga dipertemukan dengan Bundanya saat ingin mengantarkan makan siang. Dan menjadi kesempatan bertanya terhadap tindak tanduk ananda selama ini. Bunda yang ditanya hanya tersenyum, lalu ia berkata, ”Saya hanya memberi pesan kepada kakak Miss, bahwa guru kakak di sekolah adalah orang tua kakak. Guru adalah pengganti Ayah dan Bubun di sekolah. Dan guru kakak bukan hanya yang ada di kelas saja, tapi di sekolah semuanya adalah orang tua kakak.”

Maa syaa Allah, terharu mendengar nasihat orang tua kepada anaknya. 

Demikianlah, bagaimana orang tua mengenalkan anak seharusnya melakukan adab terhadap guru. Meski hal kecil, tapi terasa tanpa sebuah paksaan. Murid dan guru ibarat antara anak dan orang tua di sekolah. Murid membutuhkan kehadiran guru sebagai orang yang memiliki pengetahuan lebih dan mampu mengajarkannya kepada murid. 

Hingga timbul interaksi satu sama lain berupa komunikasi dan itu harus disertai adab sebagai bentuk rasa hormat kepada guru. Bentuk penghormatan terhadap guru bukan hanya dalam berbentuk lisan, tetapi juga dalam bentuk perilaku yang harus selalu diterapkan hingga menjadi kewajiban nantinya. 

Menuntut ilmu adalah mencari keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala melalui guru. Oleh karena itu, jika tidak ada rasa hormat dan tunduk kepada guru, maka keberkahan tersebut tidak dapat berjalan. Proses menuntut ilmu pun akan mengalami hambatan. 

Guru merupakan aspek besar dalam penyampaian ilmu, apalagi yang diajarkan adalah ilmu agama yang mengaitkan dengan keimanan. Para salaf, suri tauladan untuk manusia setelahnya telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru. Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata, 

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari). 

Perlu mengingatkan hal – hal penting kepada murid bagaimana dalam menerapkan adab. Jika keimanan kepada Allah sudah tumbuh, maka ajarkanlah tentang pentingnya penerapan adab sebagaimana adab murid di antaranya adalah adab kepada pemberi ilmu, adab kepada penyampai ilmu, adab kepada ilmu, dan adab kepada sesama penuntut ilmu. 

Banyak hal yang perlu disampaikan kepada murid bagaimana mereka harus memperhatikan adab kepada guru, mulai dari adab di hadapan guru, saat duduk, berbicara, bertanya, dalam mendengarkan pelajaran, mendoakan guru, dalam menyikapi kesalahan guru, dalam menerapkan ilmu, dan akhlaknya serta kesabaran saat membersamainya. Itu semua adalah bekal sebaik baiknya mereka kelak 

saat tumbuh dewasa bagaimana peran seorang guru hingga membawa mereka meniti kesuksesan. Ajarkan dan didik juga tentang adab adab lainnya yang akan bermanfaat baginya dan menjadikan mereka hidup tawadhu. Yang nantinya memunculkan akhirat sebagai tujuan mereka.

Ingatkan kepada mereka, betapa besar jasa para guru yang telah memberikan ilmunya kepada manusia, ketika mereka mulai menginjak di bangku sekolah baik yang bersifat formal maupun informal. Bagaimana sikap dan perilaku guru yang kerap menahan amarahnya, yang selalu merasakan perihnya menahan kesabaran. Sungguh tak pantas seorang murid melupakan kebaikan gurunya dan jangan pernah lupa menyisipkan nama mereka di lantunan doa.  Semoga kelak mereka menjadi generasi terbaik dan menjadi pemimpin dambaan umat yang membawa Islam sebagai rahmatan lil alamin. 

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Butuh Bantuan