Pengulas: Nur Fadilah (Tata Usaha SD An Nahl Islamic School)


Identitas Buku
♡┊ Judul: Mirai
♡┊ Penulis: Mamoru Hosoda
♡┊ Genre: Fantasi, Novel Literatur Jepang
♡┊ Rating: ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
♡┊ Ulasan:
Sinopsis
Kun kecil yang tidak terlalu senang saat kedatangan anggota baru di keluarganya; seorang adik bayi perempuan. Kun khawatir orangtuanya tidak akan menyayanginya sebesar dulu. Benar saja, sekarang semua-semua adalah soal adiknya. Karena itu, Kun mulai bertingkah, menciptakan keributan-keributan kecil di rumah, melawan Ibu dan Ayah, dan mengisengi adiknya hingga menangis.
Pokoknya, Kun tidak suka pada adiknya!
Kun membenci adiknya!
Kemudian, tiba-tiba ada seorang gadis remaja mendatangi Kun dan mengatakan bahwa ia merupakan adik Kun dari masa depan. Gadis itu membawa Kun berpetualang ke dunia menakjubkan di masa lalu dan masa mendatang, yang membuat Kun mesti berpikir ulang soal perasaannya pada adiknya.
���� Opini Pengulas
Aku menemukan buku ini di perpustakaan sekolah, Perpustakaan Baytul Hikmah SD An Nahl Islamic School. Tanpa berpikir panjang dan tanpa melihat sinopsis, aku mengambil buku ini untuk dipinjam dan dilahap oleh mata, pikiran, dan hatiku.
Novel ini mengisahkan seorang anak bernama Kun, anak dari seorang arsitek dan editor buku. Buku imi mempunyai bahasa terjemahan yang enak dibaca, ringan sehingga mudah dimengerti dan lebih penting tidak bertele-tele. Ini adalah kali pertama kumenamatkan buku yang dibaca. Karena sudah lama tidak membaca buku, saat penulis mendeskripsikan rumah tempat tinggal pasangan dalam buku ini, aku tidak mempunyai referensi bayangan bagaimana bentuk rumah ‘unik’ yang dirancang oleh arsitek alias suami ibunya Kun sekaligus ayahnya. Latar belakang dari sepasang suami istri ini pun cukup menarik dan sangat bertolak belakang.
Konflik awal dalam novel ini begitu relate dengan kehidupan sehari-hari. Saat Kun mempunyai adik bayi, Kun merasa cemburu, perhatian orang tuanya fokus kepada bayi itu. Di samping itu, yang membuat aku merasa ‘wah’✨ adalah ayahnya Kun belajar merawat bayi dan mengerjakan pekerjaan rumah. Meski hal tersebut adalah hal dasar yang seharusnya memang dilakukan laki-laki. Karena tidak pernah melihat hal tersebut, aku jadi merasa itu adalah hal yang wah. You know what i mean, yeah?
Dalam bab awal novel, aku mengerti sekali perasaan Kun. Bagaimana rasanya perhatian utuh itu perlahan-lahan mulai terbagi dengan sosok pendatang baru di rumah. Saat Kun memberontak karena ayah dan ibunya sedang fokus mengurus adiknya, ia berlari ke halaman rumah. Hal ajaib pun terjadi. Seekor anjing yang dipelihara keluarga Kun berubah menjadi sosok laki-laki tua yang mengkonfrontasi Kun bagaimana dulu ia pun merasa cemburu dan kehilangan perhatian saat Kun lahir ke dunia. Kini, Kun menyadari bahwa ia pun mengalami dan merasakan hal yang sama seperti Yukko (nama anjingnya).
Halaman demi halaman aku lahap. Sampai di bagian cerita time travel, Kun bertemu Mirai (nama adiknya) dari masa depan yang telah menjadi gadis remaja SMP. Ia bertemu dengan Kun di halaman rumah.
Ya, lagi-lagi di halaman rumah.
Misi mengembalikan boneka Ohina menjadi cerita yang membuatku ikut deg-degan, hahaha. Bagaimana mungkin Mirai dari masa depan masuk ke dalam rumah dibantu oleh Kun dan Yukko dengan mengendap-endap dari ayahnya untuk menyimpan kembali boneka mitos simbol dari Festival Anak Perempuan atau disebut juga Festival Persik itu karena ayahnya lupa harus menyimpannya kembali sehari setelah perayaan.
Lalu, kali kedua Mirai dari masa depan datang saat Kun dimarahi ibunya karena Kun tidak ingin membereskan mainannya. Lalu ibunya berkata bahwa ia takkan membelikan mainan lagi jika Kun tidak membereskan mainannya. Kun mendatangi halaman, dan hal ajaib itu terjadi lagi. Mirai dari masa depan datang untuk menenangkan Kun, tapi tak berhasil. Kun pergi ke waktu di mana ibunya masih kecil. Ia melihat bagaimana dulu ibunya bertingkah seperti saat ia mengacaukan mainannya hingga ibunya marah.
Saat kejadian time travel tersebut, perasaanku ikut menjadi aneh.
Saat kembali ke masa sekarang, ada kalimat dari ibunya Kun yang membuatku berpikir mungkin itu alasan ibu Kun selalu marah.
“Aku ingin membesarkan anak sebaik mungkin meskipun sambil bekerja… Tapi, ternyata yang kulakukan hanyalah marah-marah. Aku jadi meragukan kalau aku ini ibu yang baik”.
Kalimat tersebut ada di halaman 156 dan paragraf selanjutnya adalah dilema seorang perempuan yang telah menikah dan mempunyai anak.
Time travel dalam novel ini mengajarkan Kun yang terkadang tak bisa diberi tahu hanya dengan kalimat baik-baik. Melihat dari latar belakang ayah dan ibunya, novel ini memberikan pelajaran dari sudut pandang yang berbeda. Saat ibu dan ayahnya tak mampu untuk menjelaskan, perjalanan waktu membawa Kun untuk belajar.
Novel ini mengisahkan bagaimana sepasang suami istri belajar menjadi pasangan dan orang tua yang baik untuk dirinya, pasangan, dan anak-anaknya. Sebuah parenting tersembunyi yang dikemas begitu menarik melalui novel. Dalam tiga bab terakhir, kalian harus fokus dengan apa yang disampaikan penulis yang begitu lihai dalam menarasikan adegan atau kejadian fantasi yang membuat otak harus berpikir lebih aktif.
Percakapan dalam adegan terakhir menurutku begitu hangat, bagaimana maisng-masing dari orang tua Kun mulai menyadari bahwa mereka berubah sedikit lebih baik dari sebelum mempunyai Kun sampai akhirnya mempunyai Mirai. Aku tidak bisa menuliskan dialognya dalam ulasan ini. Namun, aku merekomendasikan kalian harus membacanya.
Karya ini sangat bagus, sangat layak untuk dinikmati. Ditulis oleh penulis terkenal Jepang yang telah melebarkan sayapnya ke industri film animasi. Novel ini telah difilmkan dengan judul yang sama.
Hal yang aku sukai dan terkadang membuat tersenyum adalah saat membaca kalimat, “Kun tertidur dalam keadaan tengkurap dengan bokong mencuat ke atas”.
Like? ��
Bisa dibayangkan itu hal yang lucu dan menggemaskan untuk usia anak TK. Tidak ada yang tidak kusukai dari buku ini. Terima kasih Mamoru Hosoda telah menuliskan cerita ini, terima kasih Baytul Hikmah telah menghadirkan buku ini.
────୨ Favorit Quotes ৎ────
── ✦ “Selalu ada kali pertama untuk setiap hal”. -Mirai, hlm 180 ����
── ✦ “… Apapun yang terjadi lihatlah jauh ke depan”. -Mirai, hlm 187 ����
����
Membaca buku tak kalah seru dari menonton film. Kita selalu dapat hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui. Kita berkeliling dunia, menggenggamnya, dan memeluknya.


